Home Artikel KONTRIBUSI AGROINDUSTRI DALAM PEREKONOMIAN

KONTRIBUSI AGROINDUSTRI DALAM PEREKONOMIAN

KONTRIBUSI AGROINDUSTRI DALAM PEREKONOMIAN

Oleh :Ir. H. Aunur Rofiq

Alumni IPB/Sekjen DPP PPP

Pebisnis Sektor Pertambangan dan Perkebunan

Peranan agribisnis dalam perekonomian nasional dapat diukur dengan berbagai indicator yang terdiri dari kontribusinya dalam pembentukan PDB, kontribusi dalam penyerapan tenaga kerja, kontribusi dalam perdagangan internasional, kontribusi dalam pembangunan ekonomi daerah, kontribusi dalam ketahanan pangan nasional, kontribusi dalam pelestarian lingkungan hidup, kontribusi dalam pemerataan hasil pembangunan, kontribusi dalam pembangunan ekonomi makro secara nasional.

Menurut Simon Kuznets, sektor pertanian mengkontribusikan terhadap pertumbuhan dan pembangunan ekonomi nasional dalam 4 bentuk yaitu :

a. Kontribusi produk, contohnya mmenyediakan bahan baku untuk industri manufaktur seperti : industry tekstil, makanan, minuman dan lapin-lain.

b. Kontribusi pasar contohnya pembentukan pasar domestik untuk barang industry dan konsumsi;

c. Kontribusi factor produksi menyebabkan penurunan peranan pertanian di pembangunan ekonomi, maka terjadi transfer surpus modal dan sektor pertanian ke sektor lain;

d. Kontribusi devisa pertanian sebagai sumber paling penting bagi surplus neraca perdagangan melalui ekspor produk pertanian dan produk pertanian yang menggantikan produk impor.

Beberapa alas an yang mendasari pentingnya pembangunan agroindustri :

a. Potensi sumber dayanya yang besar dan beragam,

b. Pangsa terhadap pendapatan nasional cukup besar

c. Besarnya penduduk yang menggantungkan hidupnya pada sektor ini dan

d. Menjadi basis pertumbuhan di pedesaan.

Pemerintah telah mendefisi Undang-undang (UU) Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian, yang mewajibkan industry pengolahan SDA untuk mengembangkan bisnisnya hingga ke tingkat hilir. Hilirisasi itu diharapkan dapat meningkatkan daya saing perindustrian domestic sekaligus meningkatkan nilai ekspornya. Hilirisasi industry berbasis agroindustri menjadi salah satu harapan terjadinya peningkatan nilai tambah terhadap kekayaan alam Indonesia.

Hilirisasi industry adalah strategi yang tepat untuk Negara-negara yang mempunyai sumber daya alam pertanian (agrobisnis). Keterkaitan antarsektor pertanian dan industry akan mampu mengembangkan hasil-hasil pertanian (agroindustri) memiliki nialai tambah, memperluas penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan petani seta melalui hilirisasi, agroindustri menjadikan produk-produk pertanian menjadi lebih beragam.

Dengan memperbesar porsi produk hilir dalam struktur ekspor maka perekonomian akan relative lebih baik kondisinya ketika terjadi fluktuasi harga komoditas dunia dibandingkan apabila porsi produk mentah yang mendominasi ekspor. Kondisi tersebut dapat dilihat dari kasus Indonesia sendiri dimana nilai ekspornya akan jatuh mengikuti penurunan tajam harga batu bara dan CPO (Crude Palm Oil), dimana komoditas tersebut adalah komoditas utama ekspor Indonesia.

Produk-produk pertanian yang biasa diolah lebih lanjut dan menghasilkan nilai tambah antara lain kakao, kelapa sawit, karet, ubi kayu, pisang, coklat, dan kelapa (coconut), hingga kini baru sektor kakao yang telah banyak mengalami kemajuan dalam hilirisasi. Hal ini didukung oleh aturan seperti PMK No 67/PMK.011/2010 untuk mendorong hilirisasi di sektor perkebunan seperi kelapa sawit dan kakao.

Implementasi dari regulasi terbukti dapat mendorong peningkatan produk hilir di sektor kelapa sawit dan kakao. Setidaknya kondisi ini berimplikasi mengubah porsi ekspor dari yang sebelumnya berupa biji kakao memnjadi kakao olahan. Mengacu data Askindo, ekspor biji kakao tahun 2012 sebanyak 163.500 ton. Ekspor biji kakao ini turun 22 persen dibandingkan tahun 2011 yang 210.100 ton. Pada periode sama, ekspor kakao olahan meningkat 10,4 yakni dari 195.400 ton tahun 2011 jadi 215.700 ton pada tahun 2012. Volume biji kakao yang diolah di industry dalam negeri pun meningkat dari sebelumnya 125.000 ton menjadi 135.000 ton pada tahun 2013. Biji kaako yag diolah di Indonesia diperkirakan naik lagi menjadi 400.000 ton tahun 2014.

Hilirisasi agroindustri, terutama sektor perkebunan mampu mendorong nilai ekspor dan kesempatan kerja. Kementrian pertanian mengungkapkan selama 2013 sektor perkebunan mampu menyumbang devisa dari perolehan ekspor senilai 21,4 miliar dollar AS dengan volume sebanyak 23,3 juta ton. Perolehan devisa hasil ekspor subsector perkebunan terutama ditopang komoditi sawit sebesar 11,5 miliar dolar AS, karet 5,27 miliar dolar AS, kakao 780 juta dolar AS, dan kopi 920 juta dolar AS hingga triwulan III tahun lalu. Sementara itu, neraca perdagangan perkebunan pada 2013 mengalami surplus 19,5 miliar dolar AS turun dibandingkan pada 2012 senilai 27,5 MILIAR DOLAR as.

Sementara kontribusi sektor perkebunan terhadap perekonomian Indonesia terbilang cukup signifikan, terlihat dari porsi sektor pertanian terhadap total PDB (Produk Domestik Bruto) pada tahun 2011 dan 2102 masing-masing 14,7 % dan 14,4 % dan dalam tahun 2013, hingga triwulan III sebesar 17,4 Persen.

Sementara itu tennaga kerja yang terlibat di sektor perkebunan pada 2013 sebanyak 21,4 juta orang dengan penyerapan investasi yang sebesar Rp. 77,2 triliun, meningkat dari 2012 sebesar Rp 75,4 triliun. Dengan sumbangan yang signifikan tersebut, perkebunan merupakan sektor penyerap 33,3 % total tenaga kerja dan sumber utama (70%) pendapatan rumah tangga pendesaan.

Manfaat selanjutnya dari mengembangkan industri hiliryang kuat di sektor pertanian adalah meningkatkan daya saing industry pertanian kita di tingkat regional ASEAN dan global. Dengan sumber daya alam yang berlimpah sebagai sumber bahan baku maka seharusnya industry berbasis agro di Indonesia mempunyai competitive advantage dalam hal biaya produksi.

Share