Dr. Amri, M.Si: "Kewirausahaan menopang sendi-sendi perekonomian".

Salah satu kebiasaan prosesi wisuda di Kampus STIE Kebangsaan, memberikan pencerahan bagi wisudawan, dalam bentuk orasi ilmiah. Bertindak sebagai nara sumber adalah mantan Ketua pertama STIE Kebangsaan, Dr. Amri, SE., M.Si. dengan membawa judul orasi Membangun Semangat Kewirausahaan sebagai Kemandirian Ekonomi bagi Alumni Perguruan Tinggi. Dalam orasinya, dosen senior FE Unsyiah ini menyatakan, pada era globalisasi, persaingan ekonomi bagaikan medan perang dunia dimana setiap negara berperang dan bersaing untuk mendapatkan posisi negara maju. Berbagai usaha pun dilakukan, entah itu dengan kerja sama dengan negara lain ataupun mengembangkan potensi ekonomi yang ada di dalam negara itu sendiri. Lalu potensi apa saja yang dimiliki oleh suatu negara? Misalnya saja Indonesia, khususnya Kabupaten Bireuen. Jika di kelola dengan baik, sumber daya alam indonesia yang melimpah bisa menjadi sumber kekuatan Indonesia untuk menghadapi dunia. Selain itu, dengan tingkat tenaga kerja yang tinggi, Indonesia sedang merangkak menuju perekonomian yang sejahtera.

Amri melanjutkan, kondisi perekonomian negara merupakan tolak ukur kesuksesan suatu negara. Teknologi juga ikut membantu meningkatnya suatu stabilitas ekonomi negara. Namun tidak hanya itu, kreatifitas dan inovasi juga merupakan salah satu syarat majunya suatu negara. Dalam suatu sistem dunia, setiap negara akan berusaha untuk menguasai atau setidaknya berusaha untuk mengkontrol negara lain yang tidak sesukses negara tersebut. Inovasi dan kreatifitas sangatlah di butuhkan dalam persaingan merebut kekuasaan, sebut Amri, karena perkembangan internasional tidak mudah di ramalkan. Oleh karena itu, tidak heran setiap negara bersaing untuk merebut kuasa hegemoni dengan meningkatkan nilai ekonominya. Naif jika menyebut Indonesia sebagai negara yang kreatif, karena walaupun Indonesia kaya akan budaya dan sumber daya alam, pemerintah dinilai kurang bekerja secara maksimal dalam memproduksinya. Director of Center for Public Policy and Development Studies (CPDS) Aceh ini juga menyatakan “Kemandirian bangsa dengan kewirausahaan sangatlah penting untuk menopang sendi-sendi perekonomian. Kewirausahaan menjadi pendorong penyebaran keuntungan ekonomi yang lebih baik dan meningkatan kesejahteraan. Disamping itu juga mengurangi tingkat pengangguran, mengurangi tingkat kriminalitas, meningkatkan standar hidup masyarakat dan juga mendistribusikan pendapatan secara lebih merata. Kiranya jenjang pendidikan merupakan hal yang penting untuk memberi modal dasar bagi para wirausahawan, sebab itu pertumbuhan jumlah wirausaha dan usaha kecil perlu didukung oleh lembaga pendidikan, termasuk perguruan tinggi. Dengan pertumbuhan kewirausahaan maka pengangguran dapat dikurangai dan bahkan mampu untuk menambah jumlah lapangan pekerjaan.

Amri menambahkan, menurut survey yang dilakukan oleh Global Entrepreneurship Monitor (GEM) pada tahun 2016, 19,3% penduduk indonesia yang berusia produktif merupakan wirausaha yang aktif. Seperti yang di sebutkan di atas bahwa setidaknya dibutuhkan jumlah wirausahawan sekitar 2%, ternyata, Indonesia sudah mencapai jumlah yang bisa dibilang cukup besar bagi negara berkembang. Namun, yang menjadi permasalahan adalah sebagian besar dari jumlah tersebut merupakan wirausahawan yang berdasarkan kebutuhan hidup atau Necessity Entrepreneurahip seperti golongan petani dan nelayan yang bersifat informal. Hal tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara dengan jumlah wirausaha yang tinggi namun pendapatan perkapitanya rendah. Tahun ini, indeks daya saing global (Global Competitiveness Index/GCI) Indonesia kembali naik ke peringkat 34 dari 144 negara, sebagaimana dilansir World Economic Forum dalam Global Competitiveness Report 2014-2015. Posisi Indonesia ini berada di atas negara-negara seperti Spanyol, Portugal, Kuwait, Turki dan India. Sedangkan di level ASEAN, peringkat Indonesia masih berada diperingkat ke-4 kalah dengan tiga negara tetangga, yaitu Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa sebagai sasaran antara dan sarana latihan pembelajaran menunggu membanjir membahananya liberalisasi Asia Pasifik 2020, Negara-negara ASEAN telah menetapkan tahun 2015 sebagai tahun berlakunya Asean Economic Community (AEC), atau Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). AEC merupakan bentuk integrasi ekonomi kawasan ASEAN yang stabil, makmur dan berdaya saing tinggi. Tujuan utama AEC adalah menjadikan ASEAN sebagai pasar tunggal dan basis produksi dimana terjadi arus barang, jasa, investasi dan tenaga terampil yang bebas serta aliran modal yang lebih bebas. Bagi Indonesia, keberadaan AEC akan memberikan peluang untuk memperluas cakupan skala ekonomi, mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial ekonomi, meningkatkan daya tarik sebagai tujuan bagi investor dan wisatawan, mengurangi biaya transaksi perdagangan, serta memperbaiki fasilitas perdagangan dan bisnis. Oleh karena tutup Amri, Tidak dipungkiri bahwa keberadaan entrepreneur (wirausahawan) memiliki kontribusi kuat dalam menunjang kekuatan perekonomian suatu bangsa. Sebagai dasar berkembangnya kewirausahaan, industry kreatif dan kearifan lokal merupakan sumber pengetahuan yang dinamis berkembang, diteruskan dalam bentuk perilaku para pengusaha, dan bisa menjadi inspirasi kreatif untuk pengembangan model pengajaran kewirausahaan. Keberhasilan Cina dalam mengelola kewirausahaan semoga menjadi sautu pembelajaran bagi Indonesia, dan Bireun khususnya.